Peristiwa & Konflik

Kasus AIDS di Pekanbaru Tertinggi di Riau, Stigma Jadi Tantangan Penanganan

25
×

Kasus AIDS di Pekanbaru Tertinggi di Riau, Stigma Jadi Tantangan Penanganan

Sebarkan artikel ini
Kasus AIDS di Pekanbaru Tertinggi di Riau, Stigma Jadi Tantangan Penanganan
Ilustrasi HIV. (R45/Md)

Rakyat45.com, Pekanbaru – Kota Pekanbaru mencatat angka tertinggi kasus AIDS di Provinsi Riau. Hingga akhir Desember 2025, jumlah kasus yang terdata di ibu kota provinsi tersebut mencapai 2.746 kasus, jauh melampaui daerah lain di Riau.

Data ini menempatkan Pekanbaru sebagai wilayah dengan konsentrasi kasus paling tinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya. Sebagai perbandingan, Kabupaten Indragiri Hilir mencatat 308 kasus dan Kota Dumai sebanyak 300 kasus. Sementara itu, angka terendah tercatat di Indragiri Hulu dengan 34 kasus serta Kampar sebanyak 49 kasus.

Tingginya angka di Pekanbaru menjadi sorotan serius bagi pemangku kebijakan kesehatan. Komisi Penanggulangan AIDS Riau menilai fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari karakteristik kota sebagai pusat aktivitas dan mobilitas penduduk.

Sekretaris KPA Riau, Wildan Asfan Hasibuan, menjelaskan bahwa tingginya mobilitas masyarakat serta akses layanan kesehatan yang lebih lengkap menjadi faktor utama tingginya temuan kasus di Pekanbaru.

Menurutnya, kondisi ini justru menunjukkan bahwa proses deteksi di kota tersebut berjalan lebih optimal dibandingkan daerah lain yang mungkin masih menghadapi keterbatasan fasilitas kesehatan.

“Tingginya angka kasus di Pekanbaru juga dipengaruhi oleh mobilitas penduduk yang tinggi serta akses layanan kesehatan yang lebih baik, sehingga deteksi kasus menjadi lebih optimal,” jelasnya.

Meski angka kasus terbilang tinggi, Wildan menekankan bahwa persoalan utama yang masih menjadi tantangan besar adalah stigma negatif terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHIV). Ia menilai stigma sosial sering kali membuat penderita enggan memeriksakan diri atau menjalani pengobatan secara terbuka.

“ODHIV bukan untuk dijauhi. Mereka bisa hidup normal dan produktif selama menjalani pengobatan dengan baik. Dukungan keluarga dan masyarakat sangat penting,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa HIV/AIDS saat ini bukan lagi vonis akhir seperti yang sering dipersepsikan masyarakat. Dengan pengobatan yang tepat dan rutin, penderita dapat menjalani kehidupan seperti biasa, termasuk bekerja dan beraktivitas sosial.

Data KPA Riau juga menunjukkan bahwa mayoritas penderita HIV/AIDS di provinsi ini didominasi oleh laki-laki dengan persentase mencapai 88 persen. Kelompok usia produktif, yakni 25 hingga 49 tahun, menjadi yang paling banyak terdampak.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa penyebaran HIV masih erat kaitannya dengan perilaku berisiko di kalangan usia aktif. Lingkungan perkotaan seperti Pekanbaru dinilai memiliki dinamika sosial yang lebih kompleks, sehingga risiko penularan menjadi lebih tinggi.

Wildan mengungkapkan bahwa perilaku berisiko masih menjadi tantangan utama dalam upaya pengendalian HIV/AIDS. Oleh karena itu, edukasi yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk menekan angka penularan.

“Faktor perilaku masih menjadi tantangan terbesar. Karena itu, edukasi harus terus diperkuat, terutama bagi kelompok berisiko,” jelasnya.

Selain edukasi, KPA Riau juga terus mendorong masyarakat untuk berani melakukan tes HIV sejak dini. Deteksi awal dinilai sangat penting untuk mencegah perkembangan penyakit ke tahap yang lebih parah sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

Wildan menegaskan bahwa rasa takut dan malu untuk melakukan tes HIV harus dihilangkan. Menurutnya, semakin cepat seseorang mengetahui status kesehatannya, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang efektif.

“Yang paling penting adalah pencegahan dan deteksi dini. Jangan takut untuk tes HIV. Semakin cepat diketahui, pengobatan bisa segera dilakukan dan kualitas hidup tetap terjaga,” tegasnya.

Di sisi lain, pemerintah daerah melalui KPA Riau memastikan bahwa layanan pengobatan bagi penderita HIV/AIDS terus tersedia. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 4.480 penderita HIV/AIDS di seluruh Riau yang mendapatkan akses layanan pengobatan.

Upaya ini dilakukan untuk menjaga kualitas hidup para penderita sekaligus menekan angka kematian akibat AIDS. Pemerintah juga berkomitmen memperluas jangkauan layanan kesehatan agar deteksi dan pengobatan dapat diakses lebih merata di seluruh daerah.

Dengan tingginya angka kasus di Pekanbaru, KPA Riau berharap seluruh elemen masyarakat dapat terlibat aktif dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS. Selain meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan, penghapusan stigma juga menjadi langkah penting agar penderita tidak terpinggirkan.

Isu HIV/AIDS di Pekanbaru kini tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga tantangan sosial yang membutuhkan kolaborasi semua pihak. Tanpa dukungan lingkungan yang inklusif, upaya pengendalian penyakit ini dinilai tidak akan berjalan maksimal.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *